Yuk Intip Kisah di Balik Marmer Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Dr Muhammad Kamal Ismail adalah satu diantara beberapa insinyur serta arsitek yang disuruh untuk menolong peluasan Masjidil Haram serta Mushola Nabawi.

Tetapi, ia menampik terima bayaran untuk jasanya dalam mendesain serta memantau Masjidil Haram di Mekkah serta Mushola Nabawi.

“Kenapa saya harus terima uang (untuk pekerjaan saya) di dua Mushola Suci (Mekkah serta Madinah), bagaimana saya akan hadapi Allah (pada Hari Pengadilan kelak ?),” bebernya waktu itu.

Bagaimana respon anda berkenaan artikel ini?Bahagia Inspire Confuse Sad
Ada cerita memikat yang lain dibalik pembangunan ke-2 mushola monumental untuk umat Islam itu yang dicatat oleh pakar geologi sekalian penulis Zaghloul El-Naggar.

Simak Juga : lantai marmer

Muhammad Kamal Ismail saat itu pengin melapisi lantai mushola memakai marmer yang bisa meresap panas, sebab lantai itu dipakai untuk beberapa jamaah yang lakukan thowaf. Tetapi, macam marmer itu cuman berada di gunung kecil di Yunani.

Ia selanjutnya lakukan perjalanan ke Yunani serta tanda-tangani kontrak untuk beli marmer dengan jumlah yang banyak untuk Masjidil Haram, nyaris 1/2 dari gunung marmer itu.

Ia tanda-tangani kesepakatan serta kembali pada Mekkah dengan bawa marmer putih ke Mekkah. Proses penempatan marmer putih di lantai Masjidil Haram sudah selesai.

Sesudah 15 tahun berakhir semenjak penempatan marmer, Pemerintahan Arab Saudi meminta kembali lagi untuk memakai macam marmer yang sama di Mushola Nabawi Madinah.

“Saat Raja minta untuk memakai macam marmer yang serupa untuk Mushola Nabawi, saya benar-benar bingung, hanya karena ada satu tempat di bumi ini yang mempunyai marmer macam ini, yakni Yunani, serta saya telah beli 1/2 dari deposit marmer yang berada di gunung itu,” papar Muhammad Kamal Ismail.

Ia selanjutnya kembali pada perusahaan di Yunani serta berjumpa dengan pimpinan di situ, serta menanyakan mengenai deposit marmer yang masih ada. Pimpinan perusahaan itu menjelaskan jika 1/2 deposit marmer itu sudah dipasarkan.

Muhammad Kamal Ismail selanjutnya minta ke sekretaris kantor itu untuk cari info kehadiran orang yang sudah beli tersisa deposit marmer itu. Tetapi, sedikit kesusahan sebab transaksi bisnisnya sudah lama berlangsung.

READ  Ini Dia Kelebihan Pondasi Cakar Ayam Asli Indonesia

Di hari selanjutnya, ia terima panggilan telephone mengenai kehadiran konsumen marmer itu yang rupanya satu perusahaan di Saudi Arabia.

Muhammad Kamal Ismail kembali lagi terbang ke Arab Saudi di hari yang serupa serta langsung ke perusahaan itu.

Di situ ia berjumpa dengan pimpinan perusahaan serta menanyakan mengenai marmer yang dibelinya dari Yunani belasan tahun lalu.

Rupanya marmer putih itu belum dipakai benar-benar oleh perusahaan Arab Saudi. Bahkan juga perusahaan itu tidak memakai sedikit juga marmer Yunani.

ArtikelĀ  Terkait : keramik tangga

Dengar hal itu, Muhammad Kamal Ismail menangis sambil memberikan check kosong (tiada menulis besaran nilai transaksi bisnis) ke pemilik marmer serta meminta tuliskan jumlah yang diinginnya.

Saat pimpinan perusahaan Arab Saudi itu mengenali gagasan pemakaian marmer untuk pembangunan Mushola Nabawi di Madinah ia juga menampik untuk dibayarkan.

“Saya tidak terima 1 Riyal juga. Allah yang membuat saya beli marmer ini serta melupakannya, itu berarti marmer ini telah ditakdirkan oleh Allah harus dipakai untuk Mushola Nabawi,” katanya.