Saham Konstruksi Mengalami Penurunan Drastis

JAKARTA – Performa emiten di bidang konstruksi diprediksikan memerlukan lebih dari pada sebatas kenormalan baru atau new normal untuk menahan pemburukan performa bersambung.

Beberapa emiten konstruksi awalnya sudah sampaikan efek Covid-19 pada performa operasional. Beberapa emiten mengatakan, epidemi membuat untuk project yang ditangani harus alami perlambatan serta pemberhentian sesaat.

Berdasar prediksi empat BUMN karya, situasi ini berlangsung 1—3 bulan, emiten memproyeksikan penghasilan akan turun rerata di rata-rata 25 persen—50 % pada kuartal I/2020. Mengenai, keuntungan bersih diprediksikan turun semakin dalam lagi di rata-rata 25 persen—75 %.

Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia Selvi Ocktaviani mengatakan jika selama ini emiten di bidang konstruksi sudah sampaikan prediksi pengurangan performa sebab epidemi Covid-19. Ini mengakibatkan berlangsungnya perlambatan produksi yang akan mendesak pencapaian keuntungan serta penghasilan.

“Prediksi tahun ini semakin ikuti guidance dari emiten, terakhir di transparansi info ada efek Covid-19, serta emiten beri prediksi pengurangan performa,” tuturnya pada Usaha, Rabu (3/6/2020).

Ditengah-tengah prediksi pengurangan performa, emiten konstruksi memperoleh angin fresh dari gagasan pemberlakukan kenormalan baru. New normal ialah usaha pengembalian kesibukan sebelum berlangsung epidemi dengan kepatuhan pada prosedur kesehatan serta keamanan.

Selvi menyebutkan, kenormalan akan menggerakkan pemercepatan perkembangan pekerjaan project hingga ikut buka keran pembayaran pada kontraktor.

Walau demikian, ia menjelaskan jika normal baru diprediksikan tidak langsung menyulap performa emiten konstruksi. Ia memiliki pendapat jika emiten di bidang ini akan memakan waktu yang semakin panjang untuk rekonsilasi normal baru.

“New normal tidak bermakna langsung kembali lagi seperti dahulu, perkembangan pekerjaan tidak dapat diinginkan dengan kecepatan yang sama juga dengan waktu sebelum Covid-19,” tuturnya.

Ia menjelaskan meskipun akan ada pemercepatan pembuatan project waktu masuk babak normal baru, ini diprediksikan tidak bisa tutupi kekuatan pengurangan penghasilan serta keuntungan yang berlangsung sampai April.

Menurut dia, untuk memburu pengurangan performa karena Limitasi Sosial Bertaraf Besar (PSBB) dalam selama 2 bulan paling akhir, dibutuhkan pemercepatan project yang relevan.

Ia menjelaskan jika dengan situasi penuh ketidaktetapan sekarang ini, susah memproyeksikan kapan bagian konstruksi akan betul-betul kembali lagi bergeliat. Masalahnya gelombang ke-2 penebaran virus yang berlangsung di beberapa negara dicemaskan bisa berlangsung di negeri.

Dengan alasan beberapa unsur itu, Selvi memprediksi performa emiten konstruksi di tahun ini dinyatakan akan turun. Tanda-tandanya nampak dari prediksi emiten yang mengatakan terjadi pengurangan pada kuartal I/2020, walau epidemi Covid-19 baru mulai menghantui pada Maret.

Walau demikian, ia mengatakan tidak bermakna emiten konstruksi di tahun ini akan mencatat rugi. Efek pengurangan performa pada tempat bottom line akan berlangsung beragam pada emiten, bergantung pada esensial semasing perusahaan.

“Jika saya menyaksikannya, strong balance sheet semakin lebih resilient, sebab terkait dengan kekuatan penuhi keharusan baik pada internal, atau external seperti supplier serta kreditur,” katanya.