Ini Alasan Perajin Batu Bata Harus Pakai Plastik saat Pengeringan

Sepanjang sebulan paling akhir hujan mulai kerap berlangsung. Ini membuat perajin batu bata di Dusun Alastengah, Kecamatan Jenguk harus bersabar. Karena produksi batu bata yang sejauh ini jadi sumber penghasilan ekonomi terganggu karena terhalang cuaca.

Salah satunya perajin batu bata di tempat, Abdur Rahman katakan, waktu musim penghujan, produksi batu bata turun mencolok. Bila umumnya proses bikin sampai periode pembakaran cuman perlu waktu 4 hari pada musim kemarau, sekarang ini waktu waktunya dapat capai 4 kali lipat.

Simak Juga :batu bata

“Umumnya 4 hari usai, saat ini perlu seputar 2 mingguan, baru dapat kering. Itu juga jika hujan tidak tiap hari. Jika kelak musim penghujan capai pucuknya, dapat sampai tidak produksi benar-benar,” katanya.

Pria dari masyarakat Desa Bedian dusun di tempat itu menambah, dalam satu hari bersama-sama dengan 3 perajin batu bata yang lain, umumnya dia dapat cetak batu bata minimal sampai 1.500 cetakan. Tetapi sekarang ini, produksi terganggu. Sebab proses pengeringan batu bata berjalan lama

“Jika yang pesan cuman untuk keperluan membuat rumah biasa atau punya perseorangan, kami bisa penuhi. Tapi jika boyongan untuk proyek-proyek bangunan jumlah besar, kami kerepotan,” katanya.

Baca Juga : harga bata merah

Untuk mengindari kerusakan di hasil produksinya, dia menyengaja memakai plastik selaku perlindungan dari siraman hujan. Tetapi, dia masih cemas bila setiap saat hujan turun dengan intensif yang lumayan lama, dan mengakibatkan ada kubangan air di posisi batu bata yang baru dia bikin.

“Pertama produksi terganggu, yang ke-2 hujan ini juga bisa menghancurkan batu bata yang telah diciptakan tetapi belum kering, bila ada kubangan air. Karena itu kami pakai plastik selaku tutup, dan buat seperti selokan supaya ada pembuangan air jika hujan,” katanya.

READ  Yuk Tata Kamarmu Biar Makin Nyaman